Majelis Sholawat Burdah Annur Alfalah: Lima Tahun Menjaga Cahaya Mahabbah dari Masjid ke Masjid

Di tengah kesibukan masyarakat dan derasnya arus kehidupan modern, masih ada sebuah tradisi keagamaan yang terus hidup dan dijaga dengan penuh istiqamah. Tradisi itu adalah Majelis Sholawat Burdah Annur Alfalah, sebuah kegiatan rutin yang telah berlangsung selama kurang lebih lima tahun dan hingga kini tetap menjadi ruang silaturahmi, dzikir, serta menuntut ilmu bagi masyarakat Karangploso dan sekitarnya.
Setiap datangnya malam Ahad Legi, para jamaah dari berbagai usia berkumpul di sebuah masjid yang telah dijadwalkan menjadi tuan rumah. Kegiatan ini tidak menetap di satu tempat, melainkan dilaksanakan secara safari dari masjid ke masjid di wilayah Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, dan daerah sekitarnya. Dengan cara inilah ukhuwah antarjamaah dan antar takmir masjid terus terjalin dengan baik.
Tepat setelah salat Isya, sekitar pukul 20.00 WIB, suasana masjid mulai terasa berbeda. Jamaah berdatangan membawa kitab Burdah dan kitab syarah yang menjadi pegangan dalam kajian. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang menempuh perjalanan dari desa lain demi mengikuti majelis yang telah menjadi bagian dari rutinitas spiritual mereka.
Malam itu tidak diisi dengan acara yang meriah atau hiburan yang mengundang keramaian. Justru kesederhanaannya menjadi daya tarik tersendiri. Jamaah duduk melingkar dengan khidmat, kemudian bersama-sama melantunkan bait demi bait Qasidah Burdah, sebuah karya agung yang telah berusia ratusan tahun namun tetap hidup di hati umat Islam hingga hari ini.
Qasidah Burdah sendiri merupakan syair pujian kepada Rasulullah ﷺ yang ditulis oleh seorang ulama besar asal Mesir, Imam Syarafuddin Al-Bushiri. Dalam sejarah yang banyak diceritakan para ulama, Imam Al-Bushiri menulis qasidah tersebut saat beliau sedang mengalami sakit yang cukup berat. Dengan penuh cinta kepada Rasulullah ﷺ, beliau menyusun bait-bait pujian dan harapan. Setelah itu beliau bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ yang menyelimuti dirinya dengan sebuah mantel atau burdah. Atas izin Allah, beliau kemudian memperoleh kesembuhan. Sejak saat itulah qasidah tersebut dikenal dengan nama Burdah, yang berarti mantel atau selendang.
Namun bagi jamaah Majelis Sholawat Burdah Annur Alfalah, Burdah bukan sekadar syair yang dilantunkan dengan suara merdu. Di balik setiap bait terdapat makna yang mendalam tentang akhlak, keteladanan, perjuangan, serta kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Karena itulah setelah pembacaan Burdah selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian Kitab Hasyiyah Syarah Burdah karya Imam Al-Bajuri.
Melalui kajian kitab ini, jamaah diajak memahami makna yang terkandung dalam setiap bait. Banyak pelajaran yang dapat dipetik, mulai dari pentingnya membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, memperbaiki akhlak, memperkuat keimanan, hingga menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi sebagian orang, menghadiri majelis seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun bagi para jamaah yang rutin mengikutinya, malam Ahad Legi selalu memiliki cerita tersendiri. Ada ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain ketika lantunan sholawat menggema di dalam masjid. Ada kebahagiaan saat bertemu sahabat-sahabat seperjuangan dalam menuntut ilmu. Dan ada harapan agar setiap langkah menuju majelis menjadi sebab turunnya rahmat dan keberkahan dari Allah SWT.
Yang menarik, majelis ini terbuka untuk siapa saja. Tidak harus berasal dari kalangan santri atau memiliki kemampuan membaca kitab. Tidak pula dibatasi usia tertentu. Anak-anak muda, orang tua, bahkan masyarakat umum yang baru pertama kali datang akan disambut dengan hangat dan dipersilakan bergabung.
Setelah lima tahun berjalan, Majelis Sholawat Burdah Annur Alfalah bukan hanya menjadi agenda rutin semata. Ia telah tumbuh menjadi wadah persaudaraan dan dakwah yang menghubungkan masyarakat melalui kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Dari satu masjid ke masjid lainnya, dari satu generasi ke generasi berikutnya, lantunan Burdah terus dikumandangkan sebagai ikhtiar menjaga warisan para ulama sekaligus menanamkan mahabbah kepada Nabi Muhammad ﷺ di tengah kehidupan masyarakat.
Karena itu, bagi siapa saja yang merindukan suasana majelis ilmu, ingin memperbanyak sholawat, atau sekadar mencari ketenangan hati di malam Ahad Legi, Majelis Sholawat Burdah Annur Alfalah selalu membuka pintunya. Sebab terkadang, perjalanan menuju keberkahan dimulai dari langkah sederhana menuju sebuah majelis yang penuh dengan dzikir, ilmu, dan cinta kepada Rasulullah ﷺ. 🌹